Apa itu Biokimia?

Ilmu yang mempelajari struktur dan fungsi komponen selular, seperti protein, karbohidrat, lipid, asam nukleat, dan biomolekul lainnya.

Metabolisme RNA

Mekanisme RNA Polimerase.

Glukoneogenesis dan Pengaturan Glukosa Darah

Siklus asam laktat (Cori) dan siklus glukosa-alanin.

BioChEmIsTrY

Showing posts with label Biokimia. Show all posts
Showing posts with label Biokimia. Show all posts

Sunday, October 18, 2009

Ikatan Baru Ditemukan pada Semua Makhluk Hidup

Ditulis oleh Masdin Mursaha pada 06-10-2009
new-face-003Setelah 25 tahun penelitian, kimiawan di Amerika Serikat telah mengidentifikasi suatu ikatan kimia unik yang menyatukan molekul-molekul dimer kolagen tipe IV. Ikatan tersebut adalah ikatan sulfilimin (N=S), ikatan yang belum pernah ditemukan dalam molekul-molekul biologis sebelumnya, namun sebenarnya ikatan inilah yang menyebabkanya kuatnya jejaring kolagen ini pada semua jenis hewan mulai dari sponge laut sampai manusia dan bisa menjadi kunci dalam pengobatan penyakit autoimun sindrom Goodpasture.

Saturday, June 13, 2009

Pembentukan Struktur Tiga Dimensi dengan Origami DNA


Dengan menggabungkan seni melipat kertas atau origami dan nanoteknologi, peneliti di Dana-Farber Cancer Institute telah melakukan pelipatan-pelipatan DNA menjadi objek berlapis banyak, serta berdimensi ribuan kali lebih kecil dari ketebalan rambut manusia. Struktur-struktur kecil tersebut dapat menjadi cikal bakal peralatan biomedis berukuran nano. Salah satu peran pentingnya adalah menyusupkan obat ke dalam sel secara spesifik.
Meskipun struktur dari satu strand DNA pernah dibuat sebelumnya, William Shih, PhD, menyatakan bahwa proses multilayer yang ditemukan oleh ia dan timnya memungkinkan DNA untuk dibentuk menjadi struktur tiga dimensi apapun. Objek yang berlapis-lapis akan lebih kompak dan stabil sehingga dapat bertahan di dalam lingkungan intraseluler yang cenderung ‘kacau balau’.
Dalam teknik ini, sama halnya dengan cara kerja pembuat origami, para peneliti tersebut melipat-lipat strand DNA untuk digunakan sebagai komponen penyusun, bukan sebagai cetakan protein. Shih beserta timnya berhasil mengkonstruksi berbagai bentuk dengan memakai strand DNA, antara lain tanda silang dan salib, kotak, serta jembatan. Origami DNA merupakan sebuah langkah maju dalam riset nanoteknologi, di mana atom dan molekul digunakan sebagai bagian-bagian penyusun sebuah struktur baru yang dapat digunakan dalam bidang medis, elektronik, dan sebagainya. Hal yang paling menarik bagi para peneliti tersebut adalah kemungkinan bahwa teknik ini dapat digunakan untuk membuat tiruan dari berbagai komponen sel, misalnya organel-organel transport.
Pada prinsipnya, origami DNA dibuat dengan cara melipat-lipat DNA rantai ganda seperti sebuah kipas. Lipatan-lipatan tersebut diikat dengan DNA rantai pendek seperti sebuah kawat jepret. DNA padat yang telah dilipat dan ‘diikat’ membutuhkan waktu sekitar 3 hari untuk dipesan melalui produsen. Untuk membuat struktur yang kita inginkan, DNA tersebut tinggal dipanaskan agar terurai, dibentuk dengan menggabung-gabungkan DNA rantai ganda sebagai struktur utama dan DNA rantai pendek sebagai pengikat, lalu didinginkan untuk menjaga agar bentuknya tidak berubah kembali. Proses tersebut memprogram DNA hasil untuk mempertahankan bentuknya sehingga dapat dicetak ribuan kopi baru sesuai dengan kebutuhan. Pembentukan DNA ini membutuhkan waktu maksimal seminggu, dan hasilnya dapat diamati di bawah mikroskop elektron.
Salah satu manfaat penting dari teknologi ini adalah sebagai solusi dari transport obat ke dalam sel. DNA origami dapat memfasilitasi masuknya obat-obatan ke dalam sel menembus pertahanan pada membran sel tersebut. Selain itu, DNA ini juga dapat digunakan dalam diagnosa skala seluler untuk menentukan konsentrasi dari suatu substansi. Secara keseluruhan, trik DNA origami merupakan ide cemerlang untuk mengakali evolusi sel yang butuh waktu jutaan tahun. Melalui DNA ini kita dapat melakukan apa yang telah dilakukan alam dalam waktu yang jauh lebih cepat sehingga terbukalah pintu bagi berbagai inovasi dalam bidang biologi sel dan molekuler.

Tuesday, May 12, 2009

Hubungan sinergis antara Bioinformatika dan Biokimia


Biokimia-bioinformatika Semenjak struktur 3D (tiga dimensi) DNA dielusidasi pada tahun 50an oleh Watson dan Crick, ilmu Biokimia telah berkembang demikian pesat. Setelah elusidasi struktur DNA, Biokimia diperkaya dengan penemuan-penemuan lanjutan yang tidak kalah penting, seperti penemuan fungsi enzim restriksi, elusidasi struktur 3D protein, sekuensing DNA/RNA/Protein dan tentu saja penggunaan teknologi DNA rekombinan, yang membuka lebar berbagai kemungkinan pada riset rekayasa genetika. Babak baru dalam perkembangan ilmu biokimia terjadi pada pengumuman Human Genome Project (Proyek Genom Manusia/PGM). Proyek ini bertujuan untuk mensekuensing seluruh sekuens DNA (Genom) yang terdapat pada manusia. Setelah proyek sekuensing ini selesai, diharapkan kedepannya informasi dari Genom tersebut bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai mekanisme ekspresi genetik, interaksi protein-protein, dan mekanisme penularan virus pada manusia. Aspek rekayasa dari proyek ini, tentu saja adalah untuk mendesain agen terapi untuk berbagai penyakit, baik penyakit menular atau tidak menular. Setelah proyek ini selesai pada tahun 2001, pada database genbank di situs NCBI (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/) , terdapat berbagai data sekuens DNA/RNA/Protein, yang tersebar di berbagai entri. Namun, apakah makna dari semua data sekuens tersebut? Bagaimana mengkonversi data-data mati tersebut, menjadi informasi yang berguna demi kepentingan ilmu pengetahuan dan kemanusiaan? Mari kita simak.

Bersamaan dengan pengembangan ilmu Biokimia/Biologi Molekuler, Teknologi Informasi (TI), sebagai ilmu yang baru, juga berkembang pesat. Semenjak Intel, IBM, dan Microsoft berkolaborasi untuk menciptakan IBM PC, maka komputer menjadi barang yang bisa digunakan oleh semua kalangan. Sementara Apple menciptakan Macintosh, yang adalah komputer dengan GUI (Graphical User Interface), yang segera ditiru oleh Microsoft dengan Windowsnya. Dengan demikian, komputer menjadi semakin mudah digunakan, karena berbasis grafis. Akhirnya, perkembangan dunia TI telah mencapai babak baru, setelah Linus Torvald menciptakan sistim operasi Linux, yang adalah Open Source. Dengan kaidah Open Source, maka dimungkinkan diciptakan software, yang dapat digandakan, dan dimodifikasi tanpa mendapat tuntutan hak cipta (copyrights). Prinsip ini memungkinkan penyebaran ilmu pengetahuan, tanpa batas, dan murah. Contoh dari aplikasi Open Source adalah ensiklopedia Wikipedia. Adapun TI telah sukses diaplikasikan pada industri kelas berat, seperti keuangan dan militer. TI pun juga telah sukses diaplikasikan pada dunia kedokteran/kesehatan, misalnya untuk manajemen rumah sakit, dan Medical Imaging. Namun, bagaimana peran TI dalam menyelesaikan masalah Biokimia/Biologi Molekuler? Bagaimana hubungannya dengan ilmu kimia?

Setelah PGM diselesaikan, muncul masalah baru. Sebab, untuk mengetahui mekanisme biokimiawi/biomolekuler pada tubuh manusia, informasi mengenai sekuens DNA saja tidak cukup. Diperlukan juga informasi mengenai sekuens RNA dan Protein. Akhirnya, data mengenai sekuens protein sudah mulai banyak, namun akhirnya muncul pertanyaan baru lagi. Hanya dengan mengetahui sekuens protein, tidak mungkin mengetahui bagaimana reaktivitas protein. Reaktivitas protein sangat tergantung pada struktur protein, dengan kata lain struktur primer, sekunder, tersier dan kuartenernya harus diketahui. Jika membicarakan struktur protein, ini sudah memasuki ilmu kimia, sebab dalam pembentukan struktur protein, ikatan kimia berperan sangan penting. Contohnya, peranan ikatan hidrogen, van der waals, kovalen, dan ionik, semuanya berperan penting dalam pembentukan struktur protein. Dalam mendesain obat modern, selain informasi sekuens, informasi mengenai ikatan kimia sangat penting. Interaksi protein-obat adalah tema riset yang sangat penting dalam kimia farmasetikal. Prinsipnya, pengetahuan mengenai struktur protein, akan memimpin kita pada pengetahuan mengenai fungsi protein. Jika fungsi protein diketahui, maka pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai mekanisme protein, mekanisme penularan virus, dan masalah biomedis lainnya, akan mulai mendasar. Namun untuk mengetahui struktur protein secara lengkap, wajib mengetahui ilmu kimia. Ilmu TI di masa sekarang, telah memungkinkan untuk mengkomputasi struktur protein secara lengkap, dan juga untuk mengkomputasi interaksi ikatan, dan juga interaksi protein dengan obat atau inhibitor. Hal ini sebenarnya juga telah dilakukan pada riset kimia teoritis, dimana untuk mengetahui energi minimum dari suatu konformasi senyawa, diperlukan tenaga komputasi yang sangat besar, terutama jika senyawa tersebut sangat kompleks. Bioinformatika dalam perspektif ini, bisa ditafsirkan sebagai upaya kimia teoritis untuk menyelesaikan masalah kedokteran/kesehatan/famasetikal.

Daftar Referensi:

1.

Claverie, Jean et al. 2003. Bioinformatics for Dummies. Mc Graw Hill. New York
2.

Huheey, James et al. 1997. Inorganic Chemistry: Principle of Structure and Reactivity.